Minggu, 11 Oktober 2009

Geisha dan Vierra guncang Purwokerto


PURWOKERTO – Dua band ibu kota yakni Geisha dan Vierra sukses menghibur masyarakat Purwokerto dalam acara LA Lights Welcome Party Unsoed yang digelar di Lapangan Grendeng Purwokerto Kamis malam(8/10). Lagu – lagu mereka yang telah akrab di telinga masyarakat mampu membuat para penonton ikut bernyanyi dan berjoget.

Acara yang sejatinya dipentaskan untuk menyambut para mahasiswa baru Unsoed tersebut ternyata menyedot penonton hingga ribuan orang dari seluruh penjuru Purwokerto. Tak pelak jalan dari dan menuju Unsoed macet total. Aparat kepolisian Banyumas yang diterjunkan guna mengamankan acara pun nampak kewalahan oleh ulah para pengendara kendaraan bermotor yang saling serobot, hal ini diperparah dengan banyaknya motor yang parkir dan menyita badan jalan.

Untuk mengurangi dan menghindari kemacetan yang semakin parah pihak kepolisian memberlakukan jalur lalu lintas satu arah. Selain kepolisian, pihak dari pemadam kebakaran pun ikut disertakan, 2 mobil pemadam kebakaran disisi kanan dan kiri panggung bertugas menyemprotkan air kepada para penonton guna mendinginkan suasana dan juga mengurangi debu di lapangan.

Ganesh, Promotor Djarum Wilayah Purwokerto menuturkan acara LA Lights Welcome Party ini merupakan acara rutin tahunan yang digelar PT Djarum Wilayah Purwokerto dalam menyambut para mahasiswa baru.

“ Ini merupakan acara rutin tahunan yang digelar untuk menyambut mahasiswa baru Unsoed, biasanya selepas ospek namun tahun ini karena kebentur dengan bulan Ramadhan, makanya baru bisa digelar Oktober ini” Kata Ganesh.

Acara tersebut berlangsung dengan meriah, selain penampilan band – band ibukota acara tersebut juga diisi dengan games seru dan bagi – bagi hadiah. Acara baru berakhir sekitar pukul 23.00 WIB. Acara ini selain menghibur juga membawa berkah tersendiri bagi para PKL dan juga tukang parkir dadakan.
Sumber: banyumasnews.com

Rabu, 30 September 2009


Departemen Perdagangan (Depdag) meminta peritel memasang logo “100% Cinta Indonesia” untuk mendukung peningkatan penggunaan produk dalam negeri oleh masyarakat.

“Saya sudah mengeluarkan surat edaran yang meminta peritel termasuk pusat perbelanjaan untuk memasang logo `100% Cinta Indonesia`,” kata Dirjen Perdagangan Dalam Negeri, Depdag, Subagyo di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, beberapa peritel sudah mulai memasang logo tersebut di toko maupun kantong belanjanya. Subagyo mengatakan peritel yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) telah berkomitmen untuk mendukung kampanye “100% Cinta Indonesia”.

Ketua Harian Aprindo, Tutum Rahanta mengaku beberapa anggotanya seperti Alfamart dan supermarket Tip Top telah memasang logo “100% Cinta Indonesia” di toko masing-masing.

“Ada yang di kantong belanja, ada juga di iklannya, kami usahakan pemasangan logo itu tidak menambah biaya operasional,”ujar Tutum.

Selain peritel, produsen pakaian jadi lokal merek Hammer juga telah mendukung program kampanye “100% Cinta Indonesia” dengan memberikan bonus kaus berlogo “100% Cinta Indonesia” untuk setiap pembelian produknya senilai Rp300 ribu.

Sebagai penduduk NKRI yang sedang bekerja di Negeri Jiran, saya sangat mendukung gagasan Departemen Perdagangan Republik Indonesia tersebut, karena di negeri Malaysia tempat saya saat ini berkarir, semua produk buatan dalam negeri sudah ditempeli logo ‘Buatan Malaysia’ sejak beberapa tahun belakangan ini.

Sebagai warga pendatang, dengan adanya logo tersebut tampaknya penduduk negeri ini lebih memilih produk dalam negerinya jika dibandingkan produk yang diimport dari luar negeri. Tentunya hal ini akan berdampak pada peningkatan omset penjualan di dalam negeri dan semakin dikenalnya produk dalam negeri tersebut oleh sesama warga negara asal produk tersebut dibuat

Indonesia memang memiliki keunikan yang berbeda dengan Malaysia, dimana di Indonesia era perdagangan bebas sudah demikian di dengungkan sehingga semua warga negara berbondong-bondong untuk mengkonsumsi berbagai macam produk import yang ditawarkan berbagai perusahaan, meskipun kadang-kadang produk import tersebut lebih atau sama kualitasnya dengan produk lokal karena alasan prestise kita lebih memilih produk import tersebut.

Sedangkan di Malaysia dengan sistem kerajaannya, mereka lebih mengontrol konsumsi produk lokal-nya agar lebih terserap di masyarakatnya dan membatasi produk import agar tidak menguasai pangsa pasar, kecuali bagi produk-produk yang memang belum diproduksi secara lokal. Sebagai contoh: harga mobil buatan Jepang akan jauh lebih mahal jika dibandingkan harga mobil buatan dalam negeri Malaysia seperti keluaran Proton, Perodua, maupun Naza, dan ini sangat berhasil dalam mendongkrak penjualan mobil di dalam negeri Malaysia, sehingga produk dalam negeri Malaysia akhirnya bisa dicintai di dimiliki oleh segenap lapisan warga negara-nya.

Indonesia, kapan lagi kita akan mencintai produk dalam negeri? Saya saja di Malaysia lebih senang mencari produk buatan Indonesia [kalau ada] untuk konsumsi sehari-hari, dibandingkan dengan membeli produk luar negeri yang tidak ada kaitannya dengan NKRI. Bangkit Indonesiaku!

Sumber: yahoo.com