
Departemen Perdagangan (Depdag) meminta peritel memasang logo “100% Cinta Indonesia” untuk mendukung peningkatan penggunaan produk dalam negeri oleh masyarakat.
“Saya sudah mengeluarkan surat edaran yang meminta peritel termasuk pusat perbelanjaan untuk memasang logo `100% Cinta Indonesia`,” kata Dirjen Perdagangan Dalam Negeri, Depdag, Subagyo di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, beberapa peritel sudah mulai memasang logo tersebut di toko maupun kantong belanjanya. Subagyo mengatakan peritel yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) telah berkomitmen untuk mendukung kampanye “100% Cinta Indonesia”.
Ketua Harian Aprindo, Tutum Rahanta mengaku beberapa anggotanya seperti Alfamart dan supermarket Tip Top telah memasang logo “100% Cinta Indonesia” di toko masing-masing.
“Ada yang di kantong belanja, ada juga di iklannya, kami usahakan pemasangan logo itu tidak menambah biaya operasional,”ujar Tutum.
Selain peritel, produsen pakaian jadi lokal merek Hammer juga telah mendukung program kampanye “100% Cinta Indonesia” dengan memberikan bonus kaus berlogo “100% Cinta Indonesia” untuk setiap pembelian produknya senilai Rp300 ribu.
Sebagai penduduk NKRI yang sedang bekerja di Negeri Jiran, saya sangat mendukung gagasan Departemen Perdagangan Republik Indonesia tersebut, karena di negeri Malaysia tempat saya saat ini berkarir, semua produk buatan dalam negeri sudah ditempeli logo ‘Buatan Malaysia’ sejak beberapa tahun belakangan ini.
Sebagai warga pendatang, dengan adanya logo tersebut tampaknya penduduk negeri ini lebih memilih produk dalam negerinya jika dibandingkan produk yang diimport dari luar negeri. Tentunya hal ini akan berdampak pada peningkatan omset penjualan di dalam negeri dan semakin dikenalnya produk dalam negeri tersebut oleh sesama warga negara asal produk tersebut dibuat
Indonesia memang memiliki keunikan yang berbeda dengan Malaysia, dimana di Indonesia era perdagangan bebas sudah demikian di dengungkan sehingga semua warga negara berbondong-bondong untuk mengkonsumsi berbagai macam produk import yang ditawarkan berbagai perusahaan, meskipun kadang-kadang produk import tersebut lebih atau sama kualitasnya dengan produk lokal karena alasan prestise kita lebih memilih produk import tersebut.
Sedangkan di Malaysia dengan sistem kerajaannya, mereka lebih mengontrol konsumsi produk lokal-nya agar lebih terserap di masyarakatnya dan membatasi produk import agar tidak menguasai pangsa pasar, kecuali bagi produk-produk yang memang belum diproduksi secara lokal. Sebagai contoh: harga mobil buatan Jepang akan jauh lebih mahal jika dibandingkan harga mobil buatan dalam negeri Malaysia seperti keluaran Proton, Perodua, maupun Naza, dan ini sangat berhasil dalam mendongkrak penjualan mobil di dalam negeri Malaysia, sehingga produk dalam negeri Malaysia akhirnya bisa dicintai di dimiliki oleh segenap lapisan warga negara-nya.
Indonesia, kapan lagi kita akan mencintai produk dalam negeri? Saya saja di Malaysia lebih senang mencari produk buatan Indonesia [kalau ada] untuk konsumsi sehari-hari, dibandingkan dengan membeli produk luar negeri yang tidak ada kaitannya dengan NKRI. Bangkit Indonesiaku!
Sumber: yahoo.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar